Search This Blog

thumbnail

On December 19, 2016 with No comments



Duka Allepo sudah seharusnya menjadi duka dunia. Tak ada lagi rasa kemanusiaan disana. Bom berhamburan dimana-mana tak peduli besar, kecil ataupun tua jadi korbanya. Di tengah keputusasaan itu, warga Aleppo menyebar ucapan selamat tinggal lewat media sosial.

Kelambanan global dalam membantu warga di Suriah, membuat penderitaan mereka yang terjepit di tengah konflik semakin menyedihkan, demikian Deutche Welle, Rabu (14/12/2016).

Inilah situasi hari-hari terakhir di Aleppo, Suriah ketika pasukan pemerintah yang setia pada Presiden Suriah Basyar al Assad berhasil mengusir pemberontak keluar dari kawasan itu.

Di tempat penampungan bawah tanah dan rumah duka, para dokter memohon bantuan.

Sementara, kediaman warga dibom tanpa henti, terutama di distrik-distrik yang tersisa di bawah kendali pemberontak di Aleppo.
Warga pun mulai mem-posting ucapan selamat tinggal lewat media sosial dan dalam pesan-pesan yang beredar luas. Mereka seolah ingin memiliki kata akhir dalam perang tanpa ampun ini.

"Tidak ada tempat sekarang untuk pergi, ini adalah hari-hari terakhir," kata Abdulkafi Alhamdo, seorang guru bahasa Inggris yang mengkritik kekejaman pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Alhamdo berbagi pesan dan menceritakan situasi lewat media sosial video streaming Periscope. Ia menceritakan bagaimana pasukan pemerintah semakin mendekat.

"Di sini hujan, bunyi bom sedikit lebih tenang. Pasukan pemerintah Assad mungkin 300 meter jaraknya. Tidak bisa kemana-mana. Ini adalah hari-hari terakhir. Saya berharap kami bisa berbicara lagi dengan kalian di Periscope. Saya pikir kami telah berbagi banyak momen tentang Aleppo.”
Dengan menahan kepedihan, ia melanjutkan: "Saya tidak tahu harus bicara apa lagi… Saya harap Anda bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Aleppo. Untuk putri saya, untuk anak-anak lainnya juga," katanya dalam video penuh rasa emosional.
"Saya tak percaya lagi PBB, atau masyarakat internasional. Sepertinya mereka puas kami terbunuh,” lanjutnya. "Kami menghadapi situasi paling sulit, pembantaian paling mengerikan dalam sejarah baru-baru ini. Rusia tak ingin kami keluar dari sini hidup-hidup, mereka ingin kami mati. Setali tiga uang dengan keinginan Assad.”

Peran Medsos
Pandangan dunia atas konflik yang merebak di Suriah tak lepas dari media sosial seperti Youtube, Twitter, Periscope, Facebook, dan lainnya. Hal ini membuat konflik di Suriah menjadi salah satu perang yang paling didokumentasikan di dunia melalui video dan laporan amatir.

Sumber-sumber yang tersebar di media sosial berperan besar bagi aktivis HAM dalam mencatat segala hal tentang perang ini secara rinci dan menjadi amunisi untuk melobi untuk respon dunia.

Dalam videonya, Abdulkafi Alhamdo melanjutkan kata-katanya dengan terbata-bata, "Kemarin-kemarin, ada banyak perayaan di bagian lain Aleppo, mereka merayakan jenazah kami. Oke, inilah hidup...."

"Tapi setidaknya kami tahu bahwa kami adalah orang-orang bebas. Kami ingin kebebasan, tak ada yang lain, hanya kebebasan. Tapi ini bukan kebebasan. Tak percaya bahwa kau bukan lagi orang bebas di negaramu sendiri. Dunia ini tak inginkan kebebasan. Ini bukan kebebasan."

Ribuan warga di Aleppo yang sebelumnya dikuasai pemberontak telah makin terpojok ketika pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia menolak seruan gencatan senjata.

Kelompok hak asasi membuat "permohonan mendesak" agar semua pihak yang terlibat konflik melindungi penduduk sipil.

Namun di sebuah pojok di Aleppo, dimana pasukan pemerintah makin mendekati hanya dalam jarak 300 meter, di tengah hujan yang turun, nampaknya Abdulkafi Alhamdo telah putus asa atas apa yang disebut 'kelambanan global' dalam bertindak mengatasi situasi di Suriah, yang sudah di luar batas kemanusiaan.

Abdulkafi Alhamdo menutup kata-katanya kepada kita semua, "Saya harap kalian mengingat kami. Terima kasih."

Sumber : wajibbaca.com
thumbnail

On December 18, 2016 with No comments



Memilukan dari bocah yatim piatu dari Aleppo, Suriah minta diselamatkan beredar di dunia maya. Tayangan tersebut direkam oleh sutradara panti asuhan Asmar Halabi dan dirilis oleh Syria American Medical Society.
Dalam rekaman tersebut, ditunjukkan anak-anak yang mengenakan topi musim dingin tengah berkumpul bersama. Dalam video juga terlihat beberapa balita
"Ini mungkin menjadi hari terakhir Anda mendengar suaraku dan melihatku," kata Yasmeen Qanouz yang berusia 10 tahun, salah satu dari puluhan anak-anak yatim piatu yang masih terjebak di Aleppo timur.

"Bawa kami keluar dari sini," mohon salah satu gadis kecil dikelilingi oleh hampir 50 anak-anak lain di video memilukan dari Moumayazoun Orphanage.
"Kami ingin hidup seperti anak lain lain."
"Ada 47 anak-anak di sini dan mereka semua saudara-saudariku," lanjut Qanouz, yang telah tinggal di panti asuhan sejak orang tuanya meninggal akibat serangan udara dua tahun lalu.
"Kita semua berharap dikeluarkan dari Aleppo dan bisa makan serta minum," katanya, seraya menambahkan bahwa anak-anak tidak bisa ke luar karena serangan udara dan penembakan.
Meski video bocah-bocah Suriah itu telah beredar di dunia maya, CNN yang dikutip Jumat (16/12/2016) belum bisa mengkonfirmasi keaslian video tersebut.
Lobna Hassairi dari Syrian American Medical Society mengatakan kepada CNN Kamis 15 Desember, bahwa penghuni panti asuhan itu dievakuasi. Meski ia tak tahu apakah prosesnya sudah dilakukan atau belum.

Sejauh ini upaya untuk menghubungi direktur panti asuhan ini belum berhasil.
Sekitar 50.000 warga sipil diperkirakan masih berada di dalam wilayah kecil Aleppo Timur yang masih dikuasai pemberontak, di mana rezim Suriah tengah berupaya merebut seluruh kota.
"Video bocah Suriah ini mengemuka ketika konvoi warga sipil terluka yang tengah berupaya melarikan diri dari timur Aleppo dan diserang penembak jitu. Membuat rencana upaya evakuasi di wilayah yang dikuasai pemberontak terancam," klaim aktivis di kota Suriah Kamis 15 Desember 2016.
Serangan itu diduga terjadi selama gencatan senjata melemah. Pemberontak mengatakan perjanjian gencatan senjata baru dicapai dalam semalam, setelah sebelumnya rusak dalam waktu kurang dari 24 jam.

Komite Palang Merah Internasional mengatakan, saat ini mereka tengah bekerja bersama dengan Bulan Sabit Merah Suriah, untuk membawa sekitar 200 orang terluka dari distrik yang dikuasai pemberontak.

Sumber : liputan6.com


thumbnail

On December 18, 2016 with No comments



Sebuah aksi bom bunuh diri di Aden, Yaman pada Minggu (18/12/2016) menewskan setidaknya 40 orang tentara.

"Jumlah korban tewas mencapai lebih dari 40 orang dan 50 orang lainnya terluka," kata kepala dinas kesehatan Aden, Abdel Nasser al-Wali kepada AFP.
Al-Wali menambahkan, jumlah korban tewas masih bisa bertambah karena sejumlah korban dalam kondisi kritis.
Para pejabat militer mengatakan, sebagian besar korban adalah para prajurit yang berkumpul untuk mengambil gaji di sebuah pangkalan militer di timur laut Aden.
Si penyerang menyelinap di antara para tentara yang berkumpul di luar kediaman seorang komandan pasukan khusus, Kolonel Nasser Sarea di distrik Al-Arish, tak jauh dari pangkalan militer Al-Sawlaban.
"Pelaku pengeboman mengambil keuntungan dari kerumunan itu dan ledakan bom menewaskan seketika 30 orang tentara dan melukai beberapa lainnya," kata Kolonel Sarea.
Serangan itu terjadi delapan hari setelah serangan serupa di pangkalan Al-Sawlaban yang menewaskan 48 orang tentara dan melukai 29 orang lainnya.
Editor: Ervan Hardoko
SumberTelegraph,
Sumber : http://internasional.kompas.com/
thumbnail

On December 18, 2016 with No comments



Seorang perempuan menemukan seekor ular berbisa sepanjang satu meter yang melilit di pohon natal yang dipasang di tengah rumahnya di Melbourne, Australia.

Perempuan itu kemudian menelepon meminta bantuan untuk mengeluarkan ular itu dari rumahnya, Minggu (18/12/2016).
Seorang pawang ular, Barry Goldsmith, mengatakan, binatang melata itu diduga masuk rumah melalui pintu yang terbuka.
Binatang yang berjenis ular macan itu lalu menjalar ke arah pohon natal, dan melilit di tengah dekorasinya.
Ular macan adalah jenis ular berbisa yang banyak ditemukan di sekitar pesisir Australia.
Spesies ini dilindungi di sebagian besar negara bagian Australia.
Goldsmith mengatakan, perempuan itu bereaksi dengan baik, terhadap penemuan ular di rumahnya.
"Ia keluar dari ruangan itu, meletakkan handuk di lantai sebagai penghalang agar ular tak bisa masuk ke ruangan lain, lalu menelpon saya," kata dia kepada BBC.
Setelah ditangkap, ular itu kemudian dilepaskan kembali ke alam liar.
Goldsmith mengaku sering menemukan ular di tempat yang tidak biasa.
"Saya pernah menemukan mereka di sepatu bot hangat, mesin cuci, kandang anjing, kotak pandang kucing, toilet, lemari dapur, dan rak buku," kata Goldsmith.

Sumber : http://internasional.kompas.com/
thumbnail

On December 18, 2016 with No comments



Papita Garcia Lupianez (59), sudah 40 tahun bekerja di kota wisata Torremolinos di Costa del Sol.

Bekerja empat dekade di kawasan pesisir Spanyol yang menjadi incaran para wisatawan dunia itu ternyata tak membuat Papita kini berdiam diri.

Dia kini bahkan dikenal sebagai aktivis Comisiones Obreras (CCOO), yang memperjuangkan perbaikan hidup para pekerja di bidang pariwisata ini.

Papita memiliki kontrak kerja penuh waktu dengan gaji 1.300 euro atau sekitar Rp 18,2 juta sebulan. Jauh di atas upah minimum Spanyol yaitu 764,40 euro atau hampir Rp 11 juta.

"Saya sangat malu ketika bertemu kolegaa yang dipekerjakan para subkontraktor," ujar Pepita.

"Mereka punya kontrak bekerja selama enam jam sehari, kenyataannya mereka harus bekerja delapan hingga 10 jam," tambah dia.

Atasan mereka , lanjut Pepita, hanya mengatakan para pekerja itu baru boleh pulang jika sudah meyelesaikan pekerjaan mereka.

Keberhasilan Spanyol menjaring wisatawan asing ternyata tak selalu berimbas kepada sejumlah orang yang bekerja langsung di industri itu.

Mereka adalah para pelayan hotel yang merasa dibayar terlalu murah di tengah banjir 68 juta turis tahun lalu.

Selama tiga tahun berturut-turut, Spanyol terus kebanjiran turis, dan untuk melayani mereka maka sebanyak 100.000 orang bekerja sebagai pelayan hotel.

Namun, menurut serikat pekerja hotel, dalam dua tahun terakhir semakin banyak para pelayan hotel mempertanyakan kontrak kerja mereka.

Mereka juga semakin sering "mengadu" kepada pers tentang eksploitasi dan minimnya pendapatan di negeri ketiga di dunia yang paling banyak dikunjungi turis.

Alhasil pada pertengahan pekan lalu, para pekerja perhotelan ini, termasuk Pepita, menggelar aksi protes di kota Malaga.

Mereka menentang reformasi undang-undang tenaga kerja Spanyol yang disahkan pada 2012. Aturan baru itu membuat para pelayan hotel menerima gaji yang rendah.

Perubahan aturan ini membuat para pengusaha lebih mudah memberhentikan karyawan serta memperlemah kekuatan penawaran kolektif.

Akibat lain adalah berkembangnya peruahaan alih daya (outsourcing) yang memasok tenaga kerja khususnya di bidang kebersihan dengan biaya yang lebih murah.

"Banyak hotel sudah memberhentikan staf yang mereka rekrut dan beralih ke perusahaan outsourcing," kata Ernest Canada, penulis buku tentang para pelayan hotel.

Para pelayan yang bekerja di perusahaan-perusahaan alih daya tidak tercakup dalam kesepakatan kerja kolektif tentang staf rumah tangga.

Namun, mereka dimasukkan ke dalam sektor kebersihan yang mendapatkan upah 40 persen lebih rendah dari rekan mereka di bagian lain.
"Kami ingin katakan, hentikan eksploitasi!" kata Carolina Martin (46) pelayan sebuah hotel di kota Sevilla.

Saat ini Carolina tengah menggugat mantan perusahaannya terkait kondisi kerja yang buruk.

"Saya hanya menerima 700 euro sebulan untuk mengurus 400 kamar. Upah yang mereka berikan 2 euro lebih murah untuk tiap kamar yang kami bersihkan," tambah Carolina.

Kini Carolina bekerja di sebuah hotel bintang empat di kota Sevilla dan menerima gaji hanya 618 euro atau Rp 8,6 juta per bulan.

"Jadwal kerjanya membuat saya tertekan, di saat saya bekerja, saya hampir tak punya waktu untuk hanya pergi ke kamar mandi," tambah Carolina.

Namun, PM Spanyol Mariano Rajoy mempertahankan reformasi undang-undang tenaga kerja yang dimunculkan pemerintahannya.

Rajoy bersikukuh undang-undang baru itu mampu menurunkan angka pengangguran di Spanyol hingga di bawah 20 persen dari level 27 persen pada 2013.

Sektor perhotelan dan ritel di Spanyol memang menyumbangkan hampir separuh lapangan pekerjaan tahun ini.

Sayangnya, sebagian besar lapangan kerja itu bersifat sementara dan hal tersebut merupakan masalah besar.

Hal tersebut diakui Esther Rodriguez, pekerja di taman hiburan PortAventura di kota Tarragona.

"Ada banyak pekerja perempuan dri Maroko, Senegal, Nigeria, yang menerima gaji 300 euro lebih rendah dari kami," kata perempuan 54 tahun itu.

Sejauh ini belum ada tanggapan dari para pengusaha hotel dan tempat hiburan di Spanyol. Namun, upaya untuk memperbaiki kesejahteraan para pekerja ini terus berlangsung.

"Kami harus terus menekan para pemilik hotel," kata Angela (54) yang dipecat dari sebuah hotel besar karena menolak dipindahkan ke perusahaan  outsourcing.

Dia kini tengah melakukan berbagai lobi agar kondisi pekerja hotel dijadikan salah satu penilaian penentuan "bintang" bagi sebuah hotel.

Sumber : http://internasional.kompas.com/
thumbnail

On December 18, 2016 with No comments


Ribuan anak-anak terancam mati kedinginan di jalanan kota Aleppo setelah evakuasi warga sipil dari kota itu tertunda karena perdebatan soal nasib dua desa di dekat Aleppo.


Ratusan keluarga hanya bisa saling memeluk dan meringkuk untuk mengurangi rasadingin di jalanan dan di puing-puing bangunan.
Di tengah suhu di bawah nol derajat Celcius, Sabtu (17/12/2016) malam, mereka harus menunggu digelarnya kembali proses evakuasi setelah sempat tertunda.
Para orangtua terpaksa membakar sampah atau apapun dan membungkus anak-anak mereka dengan menggunakan selimut.
Di tengah malam itu mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit yaitu bertahan di tengah cuaca dingin untuk mempertahankan posisi antrean atau pergi mencari perlindungan tapi kehilangan posisi antrean.
"Mereka pada dasarnya harus mengambil satu keputusan yang sama-sama tragis," kata Melodie Schindler, juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
Suhu udara di Aleppo diperkirakan akan anjlok hingga -3 derajat Celcius dan ICRC serta organisasi kemanusiaan lainnya memperingatkan anak-anak dan korban luka berisiko tewas dalam kondisi ini.
"Musim dingin ini akan membunuh ribuan orang yang tak memiliki rumah untuk melindungi mereka," kata Dewan Pengungsi Norwegia (NRC).
"Ini merupakan perlombaan melawan waktu untuk memastikan evakuasi yang aman bagi orang-orang yang ingin pergi," tambah NRC.
Sekitar 10.000 orang berhasil dikeluarkan dari Aleppo pada Kamis dan Jumat lalu, tetapi evakuasi terhenti ketika rezim Suriah dan sekutunya Iran mengeluarkan tuntutan baru.
Mereka menginginkan agar warga di dua desa yang dikuasai dan dikepung pemberontak juga diizinkan untuk pergi.
Pasukan pemerintah Suriah mengatakan, mereka akan menghentikan siapa saja yang akan meninggalkan Aleppo hingga warga desa Kefraya dan Al-Foua dievakuasi.
Kedua desa yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk Syiah, dikepung pasukan pemberontak sejak akhir tahun lalu.

Sumber : http://internasional.kompas.com/
thumbnail

On December 07, 2016 with No comments

Mungkin, ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua untuk tidak bertindak aneh-aneh saat pernikahan sudah dekat. Pernikahan merupakan hal yang sakral, jadi sekiranya jangan sampai berbuat yang bisa menimbulkan akibat fatal. Pasalnya, pernikanan dari sepasang kekasih di Sao Paulo, Brasil yang awalnya bahagia, harus berakhir dengan air mata.

Dikutip Mirror.co.uk, (6/12), calon mempelai wanita bernama Rosemere do Nascimento Silva, 32 tahun, dari pasangan Udirley Damasceno meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter. Mirisnya, kecelakaan tersebut hanya berjarak kurang lebih berada satu kilometer dari altar pernikahan pasangan tersebut.

Usut punya usut, sang mempelai wanita memang sebelumnya sudah jauh-jauh hari telah merencanakan perjalanan menuju altar pernikahan dengan helikopter untuk memberikan kejutan kepada sang calon suami dan para undangan lainnya.

Carlos Eduardo Batista salah satu panitia pernikahan tersebut mengatakan bahwa semua pengantin memiliki mimpi. Mimpi dari mempelai wanita tersebut adalah ingin tiba di altar dengan helikopter ke pernikahan mereka tanpa sepengetahuan dari sang kekasih dan para tamu.


Sedangkan mempelai pria, Damasceno dan 300 tamu undangan yang sudah menunggu mempelai wanita datang sebelumnya tidak mengetahui rencana Silva tersebut. Salah satu panitia pernikahan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan impian dari Silva yang telah dicita-citakannya sejak kecil agar bisa datang ke altar pernikahannya dengan helikopter. Naas, impian tersebut membuatnya dan 3 orang lainnya tewas mengenaskan.

Otoritas kepolisian Brasil saat ini sedang melakukan penyelidikan serta mencari penyebab dari kecelakaan yang menimpa empat korban, yakni pengantin wanita, pilot bernama Peterson Pinheiro, fotografer Nayla Cristina Neves yang dalam kondisi hamil dan pengiring pengantin wanita yang merupakan kakak dari sang mempelai wanita, Silvano Nascimento da Silva.


Delapan mobil pemadam kebakaran serta puluhan tim yang diturunkan untuk menyelamatkan para korban. Sayangnya tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Di tempat lain, otoritas penerbangan sipil Brasil menyatakan telah memberikan izin bahwa penerbangan terhadap helikopter tersebut layak terbang hingga 2017 mendatang. Padahal perjalanan tersebut seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. (wajibbaca.com)